Breaking

Wednesday, June 17, 2026

Hijrah Itu Indah dan Membahagiakan

Hijrah Itu Indah dan Membahagiakan: Dari Cinta kepada Allah Menuju Kebangkitan Umat

Oleh: Firdaus Gani
Ketua DPW FKDT Sumatera Barat
Mahasiswa S3 UMSumbar

Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam. Ia adalah momentum untuk merenungkan kembali salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia, yaitu hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini tidak hanya mengubah perjalanan dakwah Islam, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya peradaban yang dibangun di atas fondasi iman, persaudaraan, pengorbanan, dan cinta kepada Allah SWT.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan hati menuju Allah, perpindahan cara berpikir menuju kebenaran, dan perpindahan kehidupan menuju keberkahan. Karena itu, hijrah merupakan simbol perubahan yang tidak pernah kehilangan relevansinya sepanjang zaman. Setiap muslim dituntut untuk terus berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari kelalaian menuju ketaatan.

Hijrah Berawal dari Cinta

Jika ditelusuri lebih dalam, inti dari peristiwa hijrah adalah cinta. Kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman, keluarga, harta benda, dan kenyamanan hidup bukan karena ambisi duniawi, melainkan karena kecintaan yang mendalam kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka rela kehilangan segalanya demi mempertahankan keimanan.

Allah SWT berfirman:

«"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itu lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (QS. At-Taubah: 20)»

Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah merupakan bukti nyata keimanan. Cinta yang sejati selalu melahirkan pengorbanan. Semakin besar cinta seseorang kepada Allah, semakin besar pula kesediaannya untuk meninggalkan sesuatu yang dapat menghalanginya dari jalan-Nya.

Karena itulah Rasulullah SAW menegaskan bahwa nilai hijrah ditentukan oleh niat. Beliau bersabda:

«"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)»

Hadits ini menjadi fondasi utama dalam memahami makna hijrah. Yang dinilai Allah bukan sekadar langkah kaki yang berpindah, tetapi hati yang bergerak menuju-Nya. Hijrah yang didasari cinta kepada Allah akan melahirkan keikhlasan, keteguhan, dan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Pengorbanan yang Mengharukan

Salah satu bagian paling mengharukan dalam sejarah hijrah adalah ketika Rasulullah SAW harus meninggalkan Kota Makkah, tanah kelahiran yang sangat beliau cintai. Di kota itulah beliau dilahirkan, dibesarkan, dan menerima wahyu pertama. Namun demi menyelamatkan dakwah dan menegakkan agama Allah, beliau harus meninggalkannya.

Rasulullah SAW bersabda:

«"Demi Allah, engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengeluarkanku darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu." (HR. Tirmidzi)»

Peristiwa ini mengajarkan bahwa kecintaan kepada Allah harus berada di atas kecintaan kepada harta, jabatan, keluarga, bahkan tanah air sekalipun. Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran sering kali menuntut pengorbanan yang besar.

Dalam perjalanan hijrah tersebut, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi di Gua Tsur. Ketika kaum Quraisy berada sangat dekat dan Abu Bakar merasa cemas, Rasulullah SAW menenangkan sahabatnya dengan keyakinan yang luar biasa. Allah SWT mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya:

«"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS. At-Taubah: 40)»

Kalimat singkat ini menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam sepanjang masa. Ketika Allah bersama kita, tidak ada ketakutan yang dapat mengalahkan keyakinan. Ketika Allah bersama kita, tidak ada kesulitan yang tidak dapat dilalui.

Hijrah Melahirkan Persaudaraan

Keberhasilan hijrah tidak hanya ditandai dengan sampainya Rasulullah SAW di Madinah. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah lahirnya masyarakat baru yang dibangun di atas nilai persaudaraan dan keimanan. Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sehingga perbedaan suku, daerah, dan status sosial melebur dalam satu ikatan akidah.

Allah SWT memuji kaum Anshar dalam firman-Nya:

«"Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri sekalipun mereka juga memerlukan." (QS. Al-Hasyr: 9)»

Kaum Anshar tidak hanya membuka pintu rumah mereka, tetapi juga membuka pintu hati mereka. Mereka berbagi tempat tinggal, harta, kebun, dan kesempatan usaha kepada saudara-saudaranya dari Makkah. Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman tersebut melahirkan kekuatan sosial yang luar biasa.

Dari persatuan Muhajirin dan Anshar lahirlah masyarakat Islam yang kokoh. Mereka membangun masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, dan peradaban. Mereka membangun ekonomi yang kuat, sistem sosial yang adil, dan pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai wahyu. Dalam waktu yang relatif singkat, Madinah menjadi pusat peradaban yang disegani dunia.

Pelajaran untuk Umat Islam Masa Kini

Semangat hijrah memiliki relevansi yang sangat besar bagi kehidupan umat Islam saat ini. Banyak persoalan yang dihadapi umat bukan karena kurangnya jumlah atau sumber daya, tetapi karena lemahnya persatuan, rendahnya semangat perubahan, dan kurangnya kesediaan untuk berkorban demi kepentingan bersama.

Hijrah pada masa sekarang berarti meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

«"Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari)»

Karena itu, hijrah masa kini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk; hijrah dari kebodohan menuju ilmu, dari kemalasan menuju produktivitas, dari perpecahan menuju persatuan, dari kebencian menuju kasih sayang, serta dari pesimisme menuju optimisme yang dilandasi keimanan.

Optimisme dalam Islam bukan sekadar berpikir positif, tetapi keyakinan penuh terhadap janji Allah SWT. Seorang muslim yang bertakwa akan selalu yakin bahwa setiap kesulitan mengandung kemudahan dan setiap pengorbanan akan mendatangkan keberkahan.

Allah SWT berfirman:

«"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. At-Thalaq: 2–3)»

Inilah rahasia kebahagiaan dalam hijrah. Ketika seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ketika seseorang mengorbankan kenyamanan demi ketaatan, Allah akan menghadiahkan ketenangan. Ketika seseorang meninggalkan kemaksiatan, Allah akan membukakan pintu keberkahan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Menyalakan Kembali Spirit Muhajirin dan Anshar

Umat Islam hari ini membutuhkan semangat Muhajirin yang berani berjuang dan semangat Anshar yang siap membantu serta menguatkan. Dunia Islam memerlukan lebih banyak persaudaraan daripada pertengkaran, lebih banyak kolaborasi daripada persaingan yang tidak sehat, dan lebih banyak kepedulian daripada saling menyalahkan.

Apabila semangat Muhajirin dan Anshar kembali hidup dalam diri umat Islam, maka akan lahir generasi yang kuat akidahnya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan kokoh persatuannya. Inilah modal utama untuk membangun peradaban Islam yang maju, berwibawa, dan memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.

Penutup

Hijrah adalah perjalanan cinta. Cinta kepada Allah mendorong seseorang untuk berubah menjadi lebih baik. Cinta kepada Rasulullah SAW menggerakkan seseorang untuk mengikuti sunnah dan perjuangan beliau. Cinta kepada sesama muslim melahirkan persaudaraan yang menjadi sumber kekuatan umat.

Karena itu, Tahun Baru Hijriah hendaknya tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi menjadi momentum evaluasi dan transformasi diri. Sudah sejauh mana kita berhijrah dari keburukan menuju kebaikan? Sudah seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan untuk agama Allah? Dan sudah seberapa kuat persaudaraan yang kita bangun di tengah umat?

Semoga semangat hijrah Rasulullah SAW terus menginspirasi langkah kita untuk memperkuat iman, memperkokoh ukhuwah, memperbanyak amal saleh, dan membangun peradaban yang diridhai Allah SWT. Sebab pada hakikatnya, hijrah yang dilandasi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya indah untuk dijalani, tetapi juga membahagiakan di dunia dan membahagiakan di akhirat.

Wallahu a'lam bish-shawab.

#Firdaus Gani

No comments:

Post a Comment

Koran Wawasan Edisi 194, Februari 2023

"Prakiraan Cuaca Senin 14 Oktober 2024"


"KEPUASAN ANDA UTAMA KAMI"




BOFET HARAPAN PERI Jl. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
Selamat Datang diSemoga Anda Puas