Breaking

Sunday, February 15, 2026

Ziarah ke Makam Kedua Orang Tua: Tangisan Seorang Anak Menyambut Ramadhan

Ziarah ke Makam Kedua Orang Tua: Tangisan Seorang Anak Menyambut Ramadhan

Oleh:
Firdaus Gani
Ketua DPW FKDT Sumatera Barat
Mahasiswa S3 UMSumbar
Guru MTsN 2 Kota Padang
Kepala MDT Mukminin Alang Laweh, Kota Padang

Menjelang Ramadhan, banyak orang sibuk membersihkan rumah, menyiapkan menu sahur, dan menyusun agenda ibadah. Namun bagi saya, ada satu persiapan yang selalu terasa paling berat sekaligus paling menenangkan: ziarah ke makam kedua orang tua.

Saya lahir di Saning Bakar, Kabupaten Solok, pada 18 Agustus 1976, sebagai anak bungsu dari pasangan petani sederhana, Abdul Gani bin Naan dan Hindun binti Husen. Ayah bersuku Koto, ibu bersuku Piliang. Minangkabau tulen yang hidupnya tidak pernah jauh dari tanah, keringat, dan doa.

Saya adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Namun adik saya wafat sesaat setelah lahir. Sejak itu, saya menjadi anak bungsu yang paling disayangi, paling dijaga, paling sering dimanja. Tapi di balik kasih sayang itu, saya menyaksikan satu kenyataan pahit sejak kecil: ayah dan ibu bekerja tanpa mengenal lelah.

Mereka petani
Tak punya gaji bulanan
Tak punya jaminan hari tua

Yang mereka punya hanya keyakinan bahwa anak-anak harus sekolah, walau mereka sendiri harus menahan lapar dan letih.

Saya tumbuh dengan cinta yang utuh. Hingga suatu hari, cinta itu mulai dipanggil satu per satu oleh Allah.

Qadarullah, ayah saya wafat mendadak karena stroke berat yang tak sempat tertolong. Usianya 64 tahun. Saat itu saya masih seorang santri Aliyah di Pondok Pesantren MAM Saning Bakar. Ayah lahir tahun 1930 dan  meninggal pada 10 Desember 1994, tanpa sempat melihat saya menjadi sarjana, tanpa tahu bahwa anak bungsunya kelak mengabdikan hidup di dunia pendidikan dan keagamaan.

Ayah dimakamkan di perkuburan keluarganya sesuai adat di perbukitan sunyi. Tidak ada jalan mobil ke sana. Kami berjalan kaki membawa jenazahnya. Langkah kami berat. Nafas kami tertahan. Tangis kami pecah. Setiap tapak seakan berkata:
“Inilah perpisahan yang tak bisa ditawar.”

Saya kira duka itu cukup. Ternyata belum.

Lima tahun kemudian, saat saya hampir menyelesaikan S1 Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI di IAIN Imam Bonjol Padang, ibu saya menyusul ayah. Tahun 2001, ibu berpulang tepat ketika saya bersiap menyambut hari wisuda.

Sejak saat itu, saya menjadi yatim piatu sebelum wisuda.

Hari wisuda adalah hari yang paling saya takuti sekaligus tak bisa saya hindari. Di tengah senyum teman-teman, di antara tepuk tangan dan kilatan kamera, air mata saya jatuh tanpa bisa ditahan. Saya menangis bukan karena perjuangan kuliah yang berat, tetapi karena tak ada ayah dan ibu di kursi undangan.

Dulu saya bermimpi mereka memeluk saya, menepuk pundak saya, dan berkata:
“Nak, kami bangga.”

Hari itu, saya hanya bisa menunduk dan menangis. dengan tangisan tanpa suara

Tahun-tahun berlalu. Allah memberi saya jalan. Saya mengabdi sebagai guru, dipercaya memimpin madrasah diniyah, mengemban amanah organisasi, dan kini menempuh pendidikan S3. Banyak orang melihat jabatan. Banyak orang melihat pencapaian. Namun sedikit yang tahu:

semua itu dibangun di atas rindu yang tidak pernah sembuh Cinta dan Rindu kepada kedua  Orangtuaku

Menjelang Ramadhan, saya selalu mengajak empat orang putra saya berziarah ke makam kakek dan neneknya. Di depan nisan itu, saya bukan Ketua DPW, bukan mahasiswa doktoral, bukan kepala madrasah.

Saya hanyalah seorang anak.Yang rindu.Yang merasa belum cukup berbakti kepada kedua orang tua

Saya ajarkan anak-anak membaca doa. Saya ceritakan bagaimana kakek dan nenek mereka hidup dalam kesederhanaan agar ayahnya bisa sekolah. Saya ingin mereka paham:bakti kepada orang tua tidak berhenti saat mereka wafat.

Ziarah sebelum Ramadhan bukan sekadar tradisi.
Ia adalah tangisan yang disembunyikan,penyesalan yang didoakan, dan cinta yang tak pernah selesai.

Jika tulisan ini sampai ke hati pembaca, saya hanya ingin menyampaikan satu pesan:
Jika orang tua Anda masih hidup peluklah mereka hari ini.Jika mereka telah tiadajangan pernah putuskan doa

Karena Ramadhan akan datang setiap tahun,
tetapi kesempatan berbakti tidak selalu datang dua kali.
🙏🙏🙏

No comments:

Post a Comment

Koran Wawasan Edisi 194, Februari 2023

"Prakiraan Cuaca Senin 14 Oktober 2024"


"KEPUASAN ANDA UTAMA KAMI"




BOFET HARAPAN PERI Jl. SAMUDRA No 1 KOMP. PUJASERA PANTAI PADANG
Selamat Datang diSemoga Anda Puas