Silaturahmi Warga Menyambut Ramadan di Griya Madani
Oleh:
Jelang Ramadan tiba, ada getar yang tak selalu terdengar, namun terasa. Ia hadir dalam genggaman tangan yang saling menyapa, dalam senyum yang tak ditanya asalnya, dalam doa yang diam-diam dipanjatkan untuk tetangga. Di Griya Madani, kami berkumpul warga, RW, RT, dan jamaah—bukan untuk merayakan siapa paling benar, melainkan untuk menguatkan satu sama lain sebelum memasuki bulan yang menuntut keikhlasan.
*“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung; di kandang kambing mengembek, di kandang harimau menggaung.”*
Falsafah Minangkabau ini seperti cermin yang jujur. Ia mengajarkan adab hidup: tahu tempat berpijak, tahu cara bersikap. Bukan kaku, bukan merasa paling tahu, melainkan lentur dan beradab. Nilai itulah yang kami rawat bersama nilai yang membuat perbedaan tak berubah menjadi jarak.
Di lingkungan kecil ini, kami datang dari beragam arah. Ketua RW, Samsu Rahim, dari pulau Jawa. Ketua RT, Irsadunnas, dari Sulingkang. Saya dari Solok. Lainnya pun berbeda-beda. Namun justru di situlah keindahannya: perbedaan tak meminta diseragamkan, cukup dipertemukan. Kami belajar menjadi manusia Indonesia yang moderat, multikultural, dan wasathiyah cukup adil untuk mendengar, cukup rendah hati untuk menghormati.
Ada momen-momen kecil yang sering luput dari kamera, tapi tak pernah luput dari ingatan. Saat hari libur, ketika obrolan santai mengalir tanpa agenda, azan Subuh memanggil. Satu per satu kami beranjak. Shaf dirapatkan. Dada diluruskan. Pada saat itu, semua identitas mencair: jabatan, asal daerah, kesibukan. Kami berdiri sejajar sebagai hamba dan sebagai tetangga.
Di sanalah saya kembali paham: keluarga terdekat kita adalah tetangga. Mereka yang paling dulu mendengar suara pintu, paling cepat tahu kabar, dan paling dekat menolong ketika keadaan sempit. Maka bergaul dengan tetangga bukan pilihan, melainkan keharusan sepadat apa pun jadwal, setinggi apa pun urusan.
Ramadan akan menguji kepekaan: seberapa lembut tutur kata kita, seberapa luas sabar kita, seberapa kuat empati kita. Dan semua itu berlatih dari lingkungan terdekat. Dari menyapa yang sederhana, dari memaafkan yang tulus, dari silaturahmi yang dijaga tanpa pamrih.
Griya Madani mengajarkan satu hal yang sederhana namun mahal: langit keberkahan dijunjung bersama-sama. Ia tak jatuh dari langit; ia dibangun dari adab, kebersamaan, dan kesediaan untuk saling menjaga. Semoga menjelang Ramadan ini, kita semua belajar menjadi tetangga yang lebih hadir bukan hanya di pintu rumah, tetapi juga di hati satu sama lain.
#Firdaus Gani

































No comments:
Post a Comment