Puasa dan Niat: Ibadah Sunyi Penentu Nilai di Sisi Allah
Oleh :
Ustaz Firdaus Gani, Ketua DPW FKDT Sumatera Barat Mahasiswa S3 UMSumbar
Pergi ke sawah membawa cangkul,
padi ditanam dengan harap dan doa;
Puasa bukan sekadar menahan haus dan lapar,
tetapi meluruskan niat agar bernilai di sisi-Nya.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah ﷻ yang kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan ibadah yang paling jujur, bulan pelurusan niat, karena hakikat puasa bukan terletak pada lapar dan dahaga, melainkan pada niat yang tersembunyi di dalam hati, sebagaimana Rasulullah ﷺ menegaskan إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, bahwa setiap amal bergantung pada niat dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Allah tidak menilai rupa, jabatan, atau kekayaan, tetapi Allah menilai hati dan amal, sebagaimana sabda Nabi ﷺ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ, sehingga puasa menjadi ibadah yang sangat istimewa karena ia adalah ibadah sirriyah, ibadah yang sunyi, tidak bisa dipamerkan dan tidak bisa direkayasa, bahkan Allah menegaskan dalam hadits qudsi كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ, bahwa semua amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa, karena puasa itu milik Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya.
Namun Rasulullah ﷺ juga memberi peringatan yang sangat keras bahwa tidak semua puasa bernilai, sebagaimana sabdanya رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ, betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga, karena puasanya tidak disertai penjagaan niat dan kejujuran hati. Tidak mengherankan jika rukun puasa sangat sederhana, hanya dua, yaitu niat dan menahan diri, namun justru di situlah letak keagungannya, karena tanpa niat puasa tidak sah dan tanpa menahan diri puasa batal, menandakan bahwa niat adalah ruh dari ibadah ini.
Allah menciptakan kita bukan untuk mencari pujian manusia, melainkan untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, dan pengabdian itu diperintahkan agar dilakukan dengan ikhlas, sebagaimana ditegaskan وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, maka Ramadhan sejatinya adalah madrasah niat yang mendidik kita agar selalu lurus sebelum beramal, jujur saat beramal, dan istiqamah setelah beramal, sebab hanya dengan niat yang benar puasa mampu mengangkat derajat, membersihkan jiwa, dan mengantarkan kita pada derajat taqwa, bukan sekadar menahan lapar sebagai rutinitas tahunan.
Pergi berlayar menuju seberang,
bekal sedikit hati pun tenang;
Jika niat lurus karena Allah semata,
amal kecil pun besar di timbangan.

































No comments:
Post a Comment