MWawasan, Pangkep (SULSEL)~ Gemuruh gendang dan lantunan doa mengiringi ritual Mappalili di Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Minggu (16/11/2025). Tradisi agraris yang kaya makna ini bukan sekadar penanda dimulainya musim tanam, tetapi juga perwujudan harmoni antara manusia dan alam, serta harapan akan kesuburan yang melimpah.
Mentari pagi belum sepenuhnya merekah ketika Balla Lompoa, rumah adat kebanggaan masyarakat Labakkang, mulai dipenuhi khidmat. Para pinati (tokoh adat) dengan cermat mempersiapkan segala keperluan ritual, memastikan setiap detail berjalan sempurna. Semangat pelestarian tradisi kian membara dengan kehadiran Camat Labakkang, Bahri, S.E., M.M., didampingi istri tercinta, Dra. Ratna Ningsih, M.M., serta Ketua Lembaga Adat Andi Sukri Karaeng Ramma, dan ketua panitia Andi Sihab Noer Rahmat Karaeng Sitonra.
Tepat pukul 05.30 WITA, iring-iringan Mappalili yang dipimpin oleh Karaeng Sialloa dan ketua pinati memulai perjalanan sakral menuju sawah adat di Desa Manakku. Barisan terdepan diisi oleh para pinati yang kharismatik, membawa sesaji sebagai persembahan kepada Sang Pencipta. Di belakangnya, rombongan ketua pinati dan panitia berjalan dengan langkah tegap, diikuti oleh Karaeng Sialloa yang memancarkan aura kepemimpinan. Pasukan Badik Selebes yang gagah berani turut mengawal prosesi, sementara personel Polsek dan Danramil Labakkang sigap menjaga keamanan.
Suara gendang yang bertalu-talu menggema, mengiringi langkah rombongan sejauh 600 meter menuju hamparan sawah yang menghijau. Irama tradisional ini bukan hanya sekadar alunan musik, tetapi juga doa dan harapan yang dipanjatkan kepada semesta. Setibanya di lokasi, seekor kerbau telah siap membajak sawah, menandai dimulainya musim tanam secara simbolis.
Momen yang paling dinanti adalah perebutan seikat padi yang dibawa dalam ritual. Ratusan warga dari berbagai usia berdesakan, berebut berkah dari hasil bumi yang melimpah. Tak hanya menjadi tontonan, perebutan ini menjadi simbol semangat dan harapan akan hasil panen yang sukses.
Usai prosesi turun sawah, Karaeng Sialloa, ketua pinati, dan ketua panitia kembali ke Balla Lompoa. Camat Labakkang beserta istri menerima ritual yang diserahkan oleh ketua pinati, sebagai simbol penerimaan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian tradisi. Ketua pinati dan Karaeng Sialloa kemudian menuju ruang khusus untuk melakukan ritual pengembalian benda pusaka ke tempat semula, disaksikan oleh camat dan istri. Ritual ini merupakan ungkapan syukur atas berkah yang telah diberikan, serta harapan agar Mappalili terus lestari di bumi Pangkep.
Mappalili bukan sekadar ritual usang, tetapi cerminan kearifan lokal yang relevan hingga kini. Tradisi ini mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, menjaga kesuburan tanah, dan melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur. Mappalili Labakkang 2025 menjadi bukti bahwa tradisi dan harapan dapat tumbuh subur bersama, membawa berkah dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Pangkep.
#Arfah






























No comments:
Post a Comment