Breaking News

Pengakuan Mengejutkan Warga di Lingkungan PT.Sugar Labinta



MWawasan - (Bandar Lampung) - Rabu 20 Mei 2020, Berdirinya perusahaan besar PT.Sugar Labinta di desa Malang sari Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan rupanya tidak berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar, bahkan warga hanya menjadi penonton dan terkena imbas dari limbahnya saja.

Warga yang tinggal dilingkungan perusahaan dan enggan untuk disebutkan namanya mengatakan, "Kira-kira lima belas tahunan yang lalu, saat perusahaan ini mau didirikan, mereka saat meminta tanda tangan untuk ijin pendirian perusahaan banyak sekali iming-iming terhadap kami. Nanti mau dikasih lampu gratis, air bersih gratis, masyarakat dekat sini nanti diterima semua jadi tenaga kerja, tapi kenyataannya tidak ada. Buktinya anak saya, bolak-balik buat surat lamaran kerja tapi nggak diterima, malah yang diterima banyak dari luar daerah, sumur dan lampu gratisnya ngga ada", ucapnya.

Tidak cukup sampai dijanji-janji itu saja, warga Malang sari itu pun mengeluhkan perilaku pihak perusahaan dalam mengelola limbahnya. "Kami dilingkungan sini hanya kebagian baunya limbah saja, terkadang nafas kami sampai sesak karena baunya. Itu petani sayuran desa Gunung agung yang ada dipinggiran aliran sungai Way galih menanam sayuran sudah ga mau tumbuh bagus lagi sayurannya, padahal sebelum pabrik itu berdiri tumbuhan sayuran mereka sangat bagus dan mereka jadikan sebagai sumber penghasilan, kasihan mereka. Kalau menyangkut bantuan dari perusahaan untuk kami yang ada dilingkungan perusahaan dan para petani sekitar dari awal berdirinya perusahaan itu sampai sekarang kami belum pernah merasakan, baik itu berupa bangunan, barang, uang, maupun bantuan pelayanan kesehatan", ujarnya.

Dari pantauan wartawan di lokasi, apa yang dikeluhkan warga desa Malang sari soal limbah pabrik PT.SL tersebut ternyata benar. Kolam-kolam penampungan limbah terlihat tidak dipagar keliling dan banyak pipa-pipa paralon berserakan antara kolam satu dan kolam lainnya, kolam-kolam penampungan limbah cair tersebut berbatasan langsung dengan sungai Way galih dan tanah pertanian milik warga. Serta pada saluran pembuangan limbah pabrik yang sudah melalui proses baku mutu kesungai, posisinya berada tepat berdampingan dengan kolam nomor satu, hal itu memungkinkan limbah pabrik yang sudah melewati proses baku mutu terpapar oleh limbah cair berbahaya yang ada pada kolam nomor satu.

Alek karyawan yang bertugas di kolam penampungan limbah cair tersebut mengatakan, pihak perusahaan akan segera membangun pagar disekiling kolam. Kondisi ini seolah menggambarkan, ketidak seriusan pihak perusahaan PT.SL dalam mengelola limbahnya, karena sudah belasan tahun beroperasi ternyata kolam-kolam penampungan limbahnya belum dipagar keliling yang bisa membahayakan warga masyarakat sekitar karena bahaya limbahnya. Terlebih, jalan warga desa sebagai akses menuju lahan pertanian dan sungai Way galih begitu mepet dengan kolam nomor satu yang limbah cairnya masih sangat membahayakan kesehatan manusia.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pemilik perusahaan yang diketahui bernama Ali Sanjaya.(*)

No comments