Breaking News

Jangan Sampai Pemimpin Zaman Now Jadi Pemimpi

MWawasan, Padang ~ Menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) yang akan dilaksanakan secara serentak pada 27 Juni 2018 mendatang, telah banyak kita dengar nama-nama Bakal Calon (Balon) Gubernur, Bupati/Walikota beserta wakilnya.

Dari pemberitaan yang kita ikuti, Pemilukada serentak 27 Juni 2018 mendatang akan diikuti oleh 171 Daerah, yakni 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Tentu saja pertanyaan kita adalah bagaimana tahapannya. Tetapai yang jelas ketentuan tentang tahapan Pemilukada itu, tentu sudah tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2017 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada tahun 2018. Dalam peraturan itu, pemungutan suara digelar serentak pada 27 Juni 2018.

Maka setelah gendrang helat Pemilukada ditabuh oleh Komisi Pemilhan Umum (KPU), yang dimulai dengan membuka pendaftaran balon, maka mulailah tim sukses dan relawan serta simpatisan masing-masing balon melakukan konsilidasi untuk mempopulerkan balon meraka masing-masing, hal itu dimulai dari komunitas terkecil di kedai kopi sampai ke komunitas lintas paguyupan. Dan tidak cukup itu saja, masing-masing tim sukses dan relawan serta simpatisan mulai mempormat openi serta isu melalui media masa mapun dimedia sosisal dengan berbagai trik, sehingga hal ini menjadi perhatian dan menarik dibaca oleh masyarakat yang Daerahnya saat ini akan menghadapi Pemilukada.   

Maka setelah masyarakat membaca isu dari berita-berita baik dimedia resmi maupun mensos terkait tentang Pemilukada serentak yan akan digelar KPU, maka bermunculuan openi ditengah-tengah masyarakat itu, "Sebelum kamu bicara calon pemimpin, kamu harus paham dulu arti dari kata Pemimpin. Jika kamu tidak paham, bisa jadi kata Pemimpin itu bisa kehilangan huruf "N" sehingga yang tinggal adalah Pemimpi,"

Sebab untuk memeli Pemimpin di zaman now sekarang, semuanya sangat mudah sekali yang penting WNI. Tetapi, ketahuilah bahwa pemimpin itu, sebenarnya adalah orang yang mampu memberikan apresiasi kepada orang lain, mampu memberikan sebuah solusi untuk permasalahan, mampu mengayomi untuk sebuah perubahan dan yang paling utama lagi adalah dia lebih takut kepada Allah SWT daripada kepentingannya.

Untuk itu, marilalah kita saling ingat mengingatkan, jika kamu mau memilih pemimpin yang akan datang, pilihlah pemimpin itu sesuai harapan rakyat bukan sesuai dengan harapan dan target kamu. Tetapi pililah Pemimpin itu yang mau mendengarkan suara rakyat, sehingga dia akan lebih mengutamakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan kelompok dan kepentingan pribadinya.

Perlu juga kita ingat bersama, saat ini proses Pemilukada sedang berlangsung, seluruh balon pemimpin itu sudah mulai tampak berlomba-lomba melakukan manuver-manuver politik. Dan kita perlu berhati-hati, karena hampir semua dari mereka itu menjanjikan program-program pro rakyat, yang sebetulnya itu hanyalah bahagian dari iklan-iklan senetron politik.

Pemilukada itu adalah proses untuk memilih Pemimpin, cuma jangan sampai Pemilukada selesai yang kita dapat itu bukat Pemimpin tetapi Pemimpi. Sebab Pemimpin itu seperti lirik lagi gundul-gundul pacul yang diciptakan sunan kalijaga. Bahwa seorang pemimpim adalah orang yang membawa pacul, mengupayakan kesejahteraan rakyatnya dibandingkan kesejahteraan ia, dan keluarganya.

Ingatkan juga..! bahwa pemimpin itu harus tahu filosofi lima jari. Jadi ibu jari, orang yang bersedia dan mau mengapresiasi usaha orang lain. Jadi jari telunjuk, adalah orang yang memberikan petunjuk, arahan dan juga bersedia mengakui kalau ia salah. Jadi jari Tengah, menjadi penengah, mendamaikan bukan memperkeruh, menjadi problem solving, bukan problem making. Menjadi jari manis, harus punya jiwa humoris yang proposional. Menjadi jari kelingking, harus memiliki jiwa pemaaf dan jiwa rekontruksi. Lalu kepalkan tangannya, dan teriakan "Saya Bekerja Untuk Rakyat". Jika itu tidak ada maka calon Pemimpin kita hanya akan menjadi "PEMIMPI" di zaman Now.  (*).