Breaking News

RI Dukungan Potensi Kerjasama Ekonomi Industri Perikanan Jerman

MWawasan.JERMAN~ Jerman Utara, khususnya Hamburg dan Bremerhaven, merupakan pusat industri perikanan terbesar di Jerman. Dengan kapasitas tersebut, berbagai potensi kerjasama ekonomi dapat diperkuat antara para pelaku usaha sektor perikanan dari Indonesia dengan Jerman. Tujuan tersebut menjadi alasan utama pelaksanaan kegiatan seminar dan temu bisnis 'Opportunities in Indonesia's Fisheries Sector' yang berlangsung pada tanggal 23 Mei 2017 di Plenary Hall KADIN Hamburg, Jerman. Kegiatan seminar tersebut dilaksanakan oleh KJRI Hamburg bekerja sama dengan Handelskammer (KADIN) Hamburg, German Asia-Pacific Business Association (Ostasiatischer Verein e. V./OAV) dan didukung oleh Asosiasi Industri dan Wholesalers Perikanan Jerman (Bundesverband Der Deutschen Fischindustrie und Des Fischgrosshandels e.V.). 

Pelaksanaan kegiatan seminar dan temu bisnis dimaksud diikuti oleh peserta berasal dari kalangan pelaku usaha perikanan Jerman, Belanda, Belgia, Denmark, serta perwakilan dari Kemenko Maritim dan Kementerian Luar Negeri.

Pada kegiatan seminar 'Opportunities in Indonesia's Fisheries Sector', Indonesia menghadirkan narasumber dari Direktur Infrastruktur Perkapalan, Perikanan dan Pariwisata, Kementerian Koordinator (Kemenko) kemaritiman; Direktur Perencanaan Investasi Agribisnis dan SDA, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM); Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN); dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I). Di sisi Jerman, kegiatan seminar dimaksud turut menghadirkan Managing Director Asosiasi Industri dan Wholesalers Perikanan Jerman (Bundesverband Der Deutschen Fischindustrie und Des Fischgrosshandels e.V.) dan Managing Director Yin Seafood GmbH selaku narasumber.

Direktur Hubungan Internasional KADIN Hamburg, Heinz Werner Dickmann, dalam pembukaannya menggarisbawahi besarnya kebutuhan Jerman akan ikan dan produk perikanan untuk konsumsi maupun re-eskpor ke berbagai negara sekitar Jerman. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Jerman sangat tergantung pada pasokan dari berbagai negara penghasil ikan, termasuk diantaranya Indonesia. Sebagai salah satu anggota Uni Eropa (UE), Jerman menekankan pentingnya aspek legalitas produk perikanan. Untuk itu, sebagai salah satu satu pemasok ikan terbesar di dunia, Jerman secara dekat memantau perkembangan kebijakan perikanan di Indonesia. Menurutnya, terbuka potensi kerjasama yang tinggi, khususnya dalam upaya peningkatan nilai perdagangan bilateral antara kedua negara melalui produk perikanan.
Konsul Jenderal RI Hamburg, Sylvia Arifin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas kerjasama yang erat dengan KADIN Hamburg dan OAV serta stakeholders terkait dalam mempromosikan potensi kerjasama ekonomi di sektor kemaritiman Indonesia melalui pelaksanaan berbagai Indonesia Maritime Updates Series sejak tahun 2015. Dengan luas perairan nasional yang mencapai sekitar 5,8 juta km2 atau mencakup 70% dari total wilayah keseluruhan, sumber daya kelautan termasuk perikanan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduknya. 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) gencar memberantas IUU Fishing dan mampu meningkatkan stok perikanan nasional dengan signifikan. Pemerintah RI juga berupaya memajukan kapasitas pengolahan produk perikanan nasional yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih baik melalui program pengembangan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). Potensi kapasitas perikanan nasional tersebut menjadi salah satu peluang yang baik untuk dapat dikembangkan bersama dengan stakeholders terkait di wilayah Jerman Utara sebagai sentra industri perikanan utama di negara tersebut mengingat data dari Kantor Statistik Jerman (Destatis) menunjukkan bahwa total perdagangan produk perikanan Jerman didominasi oleh impor dengan pangsa sebesar 71%.

Terdapat beberapa catatan menarik dari para narasumber dalam kegiatan seminar 'Opportunities in Indonesia's Fisheries Sector'.Direktur Infrastruktur Perkapalan, Perikanan dan Pariwisata, Kemenko Kemaritiman, Dr. Ir. Rahman Hidayat, M. Eng., menyampaikan Saat ini terdapat 9 agenda prioritas pembangunan yang salah satunya adalah memperkuat jati diri sebagai negara maritim, termasuk di dalamnya sektor perikanan nasional.  Pemerintah RI juga telah mengembangkan pembangunan infrastruktur bidang perikanan melalui pembenahan 5 pelabuhan yaitu Pelabuhan Nizam Zachman Muara Baru, Jakarta; Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara; Pelabuhan Pengambengan Jembaran, Bali; Pelabuhan Sendang Biru, Malang, Jawa timur dan Pelabuhan Jayanti, Cianjur, Jawa Barat. Bisnis cold storage perikanan dan turunannya menjadi salah satu potensi kerjasama investasi yang dapat dikembangan antara pelaku usaha Indonesia dengan Jerman mengingat produk perikanan beku (frozen) mendominasi sektor pemrosesan produk perikanan nasional dengan pangsa sebesar 59% pada tahun 2015 dan 67% pada tahun 2016. Salah satu wilayah di Indonesia yang dapat dijadikan lokasi berinvestasi di sektor tersebut adalah Kawasan ekonomi Khusus (KEK) Sorong, Papua.

Direktur Perencanaan Investasi Agribisnis dan SDA, BKPM, Hanung Harimba Rachman, memaparkan realisasi Foreign Direct Investment (FDI) di sektor perikanan Indonesia masih rendah. Pemerintah RI saat ini telah melakukan serangkaian terobosan meningkatkan kemudahan berinvestasi di Indonesia, diantaranya  melalui One-Stop-Services (OSS), berbagai paket stimulus ekonomi kemaritiman, pemberian tax holiday untuk investasi baru dan fasilitas import duty untuk barang-barang pendukung investasi.

Managing Director Asosiasi Industri dan Wholesalers Perikanan Jerman (Bundesverband Der Deutschen Fischindustrie und Des Fischgrosshandels e.V., Dr. Matthias Keller, menyampaikan bahwa Jerman merupakan pusat industri pemrosesan ikan terbesar ke-4 di seluruh Eropa. Tingkat konsumsi produk perikanan di Jerman termasuk tinggi, yakni mencapai kisaran 14 kg/kapita pada tahun 2013 dan diprediksi akan terus meningkat dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat Jerman yang mulai meninggalkan konsumsi daging. Konsumsi ikan (seafood) meningkat dari 1,11 juta ton pada tahun 2013 menjadi 1,15 juta ton pada tahun 2016. Trend tersebut menunjukkan bahwa Jerman merupakan pasar potensial untuk ekspor produk perikanan Indonesia.

 Sekretaris Jenderal ASTUIN, Hendra Sugandhi, menyampaikan bahwa potensi produk tuna Indonesia sangat tinggi. Khusus untuk Jerman, jenis ikan tuna yang diekspor dari Indonesia merupakan prepared and canned tuna. Tantangan utama peningkatan nilai ekspor produk tuna Indonesia ke pasar Jerman terletak pada isu sustainaiblity; serta tingginya pengenaan import duty di wilayah EU, yakni mencapai 14,5% untuk fresh and frozen tuna loins dan 24% untuk jenis canned tuna.

Ketua Umum AP5I, Budhi Wibowo, memaparkan bahwa nilai ekspor, produk perikanan unggulan Indonesia adalah udang, kepiting, tuna dengan pangsa masing-masing mencapai 42,43%; 13,86%; dan 9,34% pada tahun 2015. Wilayah UE (selain Inggris) berhasil menyerap sekitar 7,8% produk perikanan Indonesia pada tahun 2015. Guna meningkatkan compliance, kapasitas serta kualitas produk perikanan Indonesia dengan standar UE, AP5I mengajak investor Jerman untuk dapat berkontribusi dalam pengembangan sektor industri perikanan budidaya (akuakultur) di Indonesia. Saat ini, kapasitas terpasang sektor budidaya perikanan (akuakultur) indonesia baru mencapai sekitar 36,97% dari potensi yang ada. Potensi investasi juga terletak dari kerjasama pengembangan infrastruktur sektor pemrosesan produk perikanan nasional, khususnya pengembangan peralatan pendingin perikanan.​

Managing Director Seafood Yin Seafood GmbH, Shumin Yin, menceritakan pengalamannya melakukan hubungan bisnis dengan pelaku usaha tuna asal Indonesia. Sebagai importir terbesar tuna di kawasan Jerman, Indonesia telah menjadi pemasok utama produk tuna yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut selama 15 tahun terakhir. ​

Selain mengikuti kegiatan seminar 'Opportunities in Indonesia's Fisheries Sector' para narasumber dari Indonesia juga melakukan kunjungan lapangan untuk melihat industri pengolahan dan pemrosesan produk perikanan serta pengelolaan kawasan wisata pelabuhan ikan. Kegiatan kunjungan lapangan tersebut berlangsung di Deutsche See GmbH serta Fischereihafen di Bremerhaven pada tanggal 24 Mei 2017. Rangkaian kunjungan lapangan ke Bremerhaven ditutup dengan resepsi bisnis yang dihadiri oleh Wakil Presiden KADIN Bremen dan Bremerhaven, Ketua Dewan Kota Bremerhaven, Managing Director Bremenports dan beberapa pelaku usaha perikanan di Bremerhaven.​

Pelaksanaan kegiatan seminar dan temu bisnis serta kunjungan lapangan menghasilkan beberapa komunikasi awal penjajakan kerjasama bisnis antara ASTUIN dan AP5I dengan para pelaku usaha perikanan yang hadir pada 2 (dua) kegiatan dimaksud. Dari sisi perdagangan, terdapat ketertarikan importir Jerman untuk membeli produk perikanan asal Indonesia, diantaranya tuna, kepiting, teripang dan udang. Selain itu juga terdapat penjajakan awal kerjasama pengembangan kapasitas produksi perikanan budidaya, khususnya terkait pengadaan alat pendingin, mesin kapal ikan dan pompa dari Denmark.​



#Gan/ F. Ekonomi KJRI Hamburg​