Breaking News

Mulyadi Sang Revolusi Energi Nasional Kembali Terpilih Jadi Anggota DPR RI Periode 2019-2024


MWawasan, Jakarta~ Drs Mulyadi MMA, wakil rakyat yang tercatat sejak 2012 - 2014 silam, dalam Komisi VII dari Fraksi Partai Gerindra dikenal sebagai orang pertama yang menggulirkan revolusi energi di gedung Senayan. “Pasalnya kedaulatan energi nasional betul-betul dirongrong oleh sikap-sikap kebijakan dan anggaran yang terlalu kompromis dan sarat retorika. Jadi bagi saya bukan lagi revitalisasi, tapi kita perlu lakukan revolusi energi nasional,” ujar pria kelahiran Bogor, 2 November 1970 pada media ini, Minggu (12/5/19).

Dia mengaku kadang teriakannya itu hilang begitu saja ditelan keriuhan pemilih kursi mayoritas parlemen.


Meski demikian, Mulyadi tak patah arang. Malah ia semakin getol memperjuangkan suara rakyat di komisi yang membidangi urusan energi sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup tersebut.

Baginya, negara ini terlalu euphoria terhadap sumber energi yang ada di dalam perut bumi. Padahal kekayaan alam di atas bumi jauh lebih besar dibanding yang ada di dalam perut bumi.

“Negara ini begitu euphoria mengeksplorasi yang ada di dalam perut bumi secara besar-besaran,” kritik lulusan Univeritas Parahiyangan Bandung ini.

Menurutnya, apa yang diperjuangkannya selama ini belum maksimal. Di samping keberadaannya di parlemen baru berjalan kurang lebih 2 tahun, Mulyadi pun kerap mendapat perlawanan sengit dari rekan-rekan di satu komisi yang beda fraksi. Ia pun sadar untuk mengawal sebuah perubahan memang dibutuhkan keberanian dan niat yang tulus. Apalagi mitra kerja yang ditanganinya itu kerap tersandera banyak kepentingan.

Karena itu, Mulyadi kembali mendapat amanah sebagai calon legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) yang sama yakni Jawa Barat V dengan perolehan suara sebanyak kurang lebih 60.500 suara, berdasarkan rekapitulasi perhitungan sementara, LPKSM Bhayangkara Utama kemudian melakukan konversi perolehan suara ke perolehan kursi dengan menggunakan metode sainte lague sebagai basis perhitungan sebagaimana yang diamanahkan oleh UU 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

“Saya ingin menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” ujar caleg nomor urut 2 ini.

Keterlibatan Mulyadi di partai politik bukan sekadar latah atau ikut terbawa euphoria belaka. Awalnya Mulyadi yang kala itu tengah bekerjasama dengan pendiri Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk mendirikan perusahaan penerbangan mengajaknya untuk ikut maju sebagai caleg pada Pemilu 2009. Gayung pun bersambut, sebagai putera daerah Mulyadi mengiyakan ajakan Prabowo untuk ikut bertarung sebagai caleg di dapil Jawa Barat 5 yang meliputi Kabupaten dan Kota Bogor. Sayang, hasil perhitungan KPU, hanya meloloskan satu kursi. Sementara Mulyadi sendiri berada di posisi kedua pada waktu pesta demokrasi itu.

Tidak lolos sebagai anggota dewan, Mulyadi kembali menekuni profesi sebelumnya sebagai pengusaha sekaligus pakar dalam bidang pasar modal. Bahkan sebagai pemegang lisensi pasar modal, keberadaanya kerap diincar perusahaan yang berencana go public. Jelang tutup tahun 2012, tiba-tiba Mulyadi dipanggil untuk mengemban tugas sebagai anggota DPR. “Karena ini tugas, maka saya harus mengembannya dengan penuh tanggungjawab,” ujar ayah empat orang anak yang menggantikan posisi Widjono Hardjanto sebagai anggota dewan.

Disamping sibuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, Mulyadi yang sudah lama membina sebuah pondok pesantren penghafal Al-Quran di daerah Jonggol, Kabupaten Bogor itu kembali bertarung sebagai caleg di dapil yang sama. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, setiap akhir pekan ia gunakan untuk blusukan dari kampung ke kampung.

“Semoga saya diberi kekuatan untuk menjaga niat dan aktifitas ini, karena bagi saya maju kembali sebagai caleg bukanlah untuk mengejar jabatan, tapi sebagai upaya ikut menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” katanya.

Seperti apa perjuangan dan aktivitasnya yang kembali maju sebagai caleg. Kepada Wiri Yutruski selaku Koordinator Lapangan LPKSM Bhayangkara Utama yang didampingi Wartawan dari Media ini yang melakukan wawancara eksklusif di ruang kerjanya, mantan Direktur Operasional Cipaganti Grup itu memaparkan. 

Berikut petikannya:

Bisa ceritakan apa saja yang Anda perjuangkan di gedung parlemen saat itu?

Pada tiga bulan pertama menjalani tugas sebagai anggota dewan, oleh partai saya ditugasi masuk ke Komisi 7. Setelah mempelajari aturan main, tata tertib dewan dan mengikuti rapat-rapat komisi dan fraksi terutama terkait dengan komisi 7, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kondisinya begitu memprihatinkan terutama pada tata kelola energi. Kemudian saya juga dipercaya masuk dalam pokja RUU Nagoya Protokol yang membahas pengelolaan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia. Ternyata sumber daya hayati kita bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan devisa negara.

Saya makin terbelalak ketika mengetahui selama ini kekayaan alam yang ada di atas bumi ini tidak dikelola secara maksimal. Mustinya kita harus belajar banyak dari China yang lebih memilih memanfaatkan kekayaan alam yang ada di atas bumi dibanding yang ada di dalam perut bumi. Anehnya di Indonesia ternyata banyak pihak asing yang masuk untuk memanfaatkan sumber daya hayati yang ada di atas bumi. Karena itu, saya sampaikan kepada pihak pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bahwa dalam hal perijinan ke depannya, bukan hanya soal amdal saja tapi kementerian LH juga harus memastikan daerah tambang baru itu sumber daya hayatinya benar-benar bisa diproteksi terlebih dulu. Makanya saya gulirkan permasalahan tata kelola energi ini bukan sekedar revitalisasi saja tapi menggunakan bahasa revolusi.

Di samping itu saya juga menyampaikan bahwa Kementrian Riset dan Teknologi jangan sampai hanya menjadi kementrian seremonial dan menghabiskan APBN karena selama ini hanya bisa menjadi departemen cost center, belum terlihat apa kontribusinya selama ini? Mustinya menristek harus bisa menciptakan produk atau temuan yang bisa memberi pemasukan negara. Misalnya produk-produk sistem perpajakan yang berbasis IT sehingga mensupport negara dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pajak. Jadi selama menjadi anggota DPR, saya sebagai praktisi manajemen yang sudah bertahun-tahun saya melihat adanya tata kelola kebijakan yang tidak maksimal bahkan cenderung tersandera oleh kepentingan-kepentingan sehingga merugikan masyarakat.

Lalu apakah ini yang melatari Anda maju kembali sebagai caleg?

Ya. Selain saya baru baru di tahun 2012 - 2014 di Parlemen, saya juga ingin ikut menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu.  Masyarakat pun harus tahu bahwa untuk bisa menjadi bagian dari perubahan itu tidak hanya dengan berkoar-koar, tapi ikut terjun langsung. Apabila Partai Gerindra diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk berkuasa di negeri ini, saya harap dari program aksi yang diusung Partai Gerindra bisa mengakomodir kepentingan bangsa. Saya ingin ikut melihat perubahan dan menjadi bagian dari itu. Hakikat dasarnyanya, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak di negeri ini.

Lalu apa visi dan misi Anda?

Kalau visi sebagai seorang yang beragama, karena saya seorang muslim, saya ingat sekali pesan Rasulullah, bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Selain itu saya juga betul-betul bisa mempertanggungjawabkan sisa umur saya di hadapan Tuhan. Sementara misi saya adalah pada prinsipnya saya ingin ikut memberikan masukan-masukan dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan untuk setiap program dan anggaran negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Intinya membawa mengawal transformasi negara yang selama ini tersandera menjadi bebas tanpa kendala.

Kenapa Anda pilih dapil Jawa Barat 5?

Jawa Barat 5 adalah dapil tanah kelahiran saya. Leluhur saya di sana semua. Selama menjadi anggota dewan membuat saya terbelalak bahwa selama ini ada dana di program DPR untuk masyarakat seperti bantuan-bantuan sosial, bantuan infrastruktur, dana aspirasi dan sosialisasi empat pilar bangsa. Dimana selama hidup di lingkungan saya yang menjalankan kegiatan itu membuat masyarakat kaget, bahwa kegiatan seperti itu ada dananya. Lalu selama ini kemana anggarannya? Nah kalau hal itu bisa memberikan kontribusi kepada daerah pemilihan, maka saya pun memanfaatkan hal itu untuk kesejahteraan masyarakat. Jangankan ada anggarannya, sebagai putera daerah, saya bertanggungjawab untuk berbuat sesuatu memajukan dan membangun masyarakat. Atas dasar itu pula saya akhirnya memilih kembali ke dapil yang sama seperti tahun 2014 lalu.

Apa saja yang sudah Anda lakukan di dapil?

Sebagai salah satu penggerak partai Gerindra, saya wajib melakukan kordinasi dengan struktural saya juga melakukan komunikasi dengan anggota dewan yang ada di kabupaten dan provinsi untuk bersinergi dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai anggota. Saya sampaikan bahwa sebagai refresentasi dari partai tentu harus bisa memberikan kontribusi tidak saja kepada masyarakat, tapi juga harus bisa menangani masalah-masalah yang timbul dalam struktur partai. Kemudian karena ekspektasi masyarakat begitu besar terhadap duduknya saya sebagai salah satu pengurus partai, saya membuat HMS Center (Haji Mulyadi Syurdi) tapi di lapangan lebih dikenal dengan HMS Strategic. Kita buat organisasinya, programnya dan anggarannya.

Dari proposal yang masuk alhamdulillah selama ini kita bisa mengakomodir berbagai keinginan masyarakat di bidang sosial, keagamaan, dam pemuda. Selama ini kita membina para penghapal Alquran, menggelar tablig akbar rutin bersama KH Arifin Ilham. Festival musik untuk memberikan saluran-saluran bakat anak muda supaya kegiatan mereka positif. Memberikan bantuan bagi korban bencana, bantuan renovasi rumah tidak layak huni. Alhamdulillah proposal yang sudah masuk hampir 90 persen kita akomodir.

Selain itu kita juga lagi berjuang mengakomodasi keinginan masyarakat yang selama ini belum tersaluri listrik. Begitu juga permohonan masyarakat puncak, yang mengadukan selama ini terganggu dengan keberadaan vila-vila di sana. Saya sampaikan kepada Menteri LH, bahwa kalau Jakarta banjir selalu dibilang kiriman dari Bogor, padahal itu sebenarnya air pulang, dimana setiap akhir pekan, warga Jakarta pemilik vila berduyun-duyun ke puncak lalu buang air disana sehingga suatu saat air itu pulang lagi ke Jakarta.

Program apa saja yang Anda tawarkan?

Tentunya program yang saya tawarkan adalah terkait isu-isu daerah yang selama ini belum maksimal dirasakan oleh masyarakat, seperti layanan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Saya berharap bisa mengawal kebijakan anggaran negara dan akan saya arahkan ke dapil saya. Disamping itu, saya juga sudah membangun komunikasi dengan kepala daerah, untuk lebih memberikan prioritas lebih dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Karena dapil ini tidak jauh dari ibukota tentu menjadi barometer nasional dalam hal pelayanan dan pembangunan, mestinya pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pun tidak boleh timpang.

Menurut Anda seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 5?

Karena saya awalnya bukan orang politik, jadi ketika terjun langsung terasa kaget juga menghadapi kenyataan di lapangan apalagi dengan adanya pasukan tak gentar membela yang bayar. Disamping ada yang idealis tentunya ada juga yang pragmatis, setiap daerah berbeda-beda. Ada yang sudah militan, ada yang masih harus diyakinkan dan ada pula yang tidak bisa diarahkan.

Lalu bagaimana Anda mengantisipasi kelompok pemilih pragmatis?

Saya pikir tinggal edukasi memberikan pemahaman yang baik, bahwa apa yang mereka putuskan bukan saja akan berpengaruh pada kehidupan mereka ke depan tapi bagi anak cucu mereka. Kalau pragmatis masih tetap dipertahankan, maka bukan saja mereka yang rugi tapi anak cucu mereka. Mereka mestinya tidak boleh lagi menyia-nyiakan hak pilih mereka hanya untuk sejumlah uang tapi harus dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah di dapil saya ini masyarakat memperyai saya namun bagi saya itu adalah suatu amanah yang harus saya pertanggungjawabkan dunia dan akhirat.

Menurut Anda seperti apa Partai Gerindra di dapil Jabar 5?

Karena kapasitas saya sebagai kader, saya hanya bisa menyarankan bahwa harus diperkuat tentang tujuan dari keberadaan Partai Gerindra sebagai sarana perjuangan masyarakat untuk menjadi sejahtera. Untuk itu harus ada roadmap yang jelas. Saya juga tidak dalam kapasitas yang menilai keberadaan partai, tapi saya hanya bisa memberikan rekomendasi, bahwa partai ini bisa menjadi besar, selama orang-orang yang terlibat dalam partai ini berjiwa besar dan profesional.

Apa pesan dan harapan Anda ?

Tidak hanya ke pemilih tapi kepada para caleg yang satu partai, bahwa luruskan niat, kalau sudah lurus untuk berjuang di partai ini dengan baik. Jangan jadikan jabatan di dewan itu sebagai tujuan. Kalau jadi tujuan saya yakin pasti akan stres. Mau jadi sudah stres, pada saat jadi tambah stres dan mau lepasnya juga stres. Kalau mau jadi harus mengeluarkan banyak biaya, pada saat jadi mereka stres untuk mengembalikan apa yang dikeluarkan, dan pada saat mau lepas juga pasti stres karena seakan merasa kehilangan. Kepada masyarakat dan pemilih lainnya, saya ucapkan terima kasih atas hak suara yang sudah diberikan 


#Wiri Yutruski

Catatan:

Artikel ini ditulis dan dimuat di Media Wawasan. Pada Pemilu 2019 ini, Mulyadi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 5.

No comments