Breaking News

Di Melbourne, Prof. Rachmat Witoelar jadi pembicara di Eco City World Summit 2017

Prof. Rachmat Witoelar sebagai pembicara pada Eco City World Summit 2017

MWawasan.Melbourne(AUSTRALIA)~ Prof. Rachmat Witoelar, Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk Pengendalian Perubahan Iklim telah hadir sebagai pembicara pada Eco City World Summit di Melbourne (12-14/07). Kehadiran utusan Indonesia pada pertemuan tersebut telah menjadi momentum penting untuk menyuarakan pentingnya peran Indonesia dalam upaya pengendalian perubahan iklim, serta berbagai peluang, tantangan, dan pencapaian program nasional yang telah dilaksanakan sebagai komitmen Indonesia atas Paris Agreement dan pembangunan berkelanjutan. Hadir pada pertemuan tersebut adalah ratusan peserta yang terdiri dari para peneliti, ahli perencanaan kota, pemerintah kota, LSM, serta figur publik dunia, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat Al Gore yang juga advokat dunia mengenai isu perubahan iklim. ​

Dalam presentasinya, Prof. Rahmat menyampaikan bahwa perubahan iklim adalah ancaman global, namun kunci keberhasilan aksi perubahan iklim harus dilakukan di tingkat lokal. Untuk itu, sangat penting untuk melibatkan wali kota dan bupati dalam perjuangan melawan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan karena kebanyakan aktivitas ekonomi, aset negara, infrastruktur, dan fasilitas pemerintahan ada di kota. 
 
Lebih lanjut disampaikan Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa hal untuk mendorong pemerintah kota dan kabupaten agar lebih berkelanjutan. Misalnya dengan program Adipura yang dijalankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Program Pengembangan Kota Hijau oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Disampaikan bahwa sejak diperkenalkannya konsep keberlanjutan ini, sudah banyak kota dan kabupaten di Indonesia yang mengimplementasikannya. 
 
Namun demikian diakui bahwa saat ini Indonesia juga masih memiliki banyak tantangan, diantaranya kurang tersedianya data yang dapat diakses, kapasitas sumber daya manusia masih terbatas, dan kurangnya kepemimpinan yang fokus pada visi keberlanjutan. Selain itu, tingginya urbanisasi di Indonesia, juga mendorong pertumbuhan kota – kota baru yang berpotensi menyerap karbon, namun akan mengemisikan karbon yang sangat tinggi mengingat teknologi dan sumber daya yang terbatas dan perencanaan yang kurang terintegrasi.

Untuk itu, Prof. Rahmat menekankan penting equal needs of partnership dan leadership/political support dalam implementasi berbagai kebijakan pengendalian perubahan iklim sebagai bagian dari upaya pembangunan berkelanjutan. 
 
 
 
 

No comments