Breaking News

Mekanisme EAS Mesti Kuat Demi Ciptakan Stabilitas dan Perdamaian

MWawasan.THAILAND~ Peningkatan stabilitas kawasan di tengah-tengah meningkatnya kejahatan non konvensional semakin memerlukan arsitektur keamanan yang kokoh dan komprehensif. Kesadaran bahwa sejumlah aktivitas yang berkembang akhir-akhir ini dapat memicu potensi konflik terbuka di kawasan, menjadikan 18 negara yang tergabung dalam East Asia Summit (EAS) semakin tertantang untuk menemukan solusi tepat demi meningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan.

Indonesia, diwakili oleh Duta Besar Foster Gultom, menyatakan bahwa Arsitektur Kemanan Kawasan yang sudah ada merupakan 'alat' untuk mencapai visi bersama menciptakan perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan.

Hal ini diungkapkan dalam pertemuan 6th EAS Workshop on Regional Security Architecture di Bangkok, Thailand, pada 16 Juni 2017. Pertemuan ini merupakan upaya untuk memberikan kesempatan bagi seluruh negara peserta EAS untuk mendeliberasikan upaya penguatan arsitektur keamanan regional serta untuk memberikan rekomendasi praktis dan konstruktif.

Pertemuan memberikan perhatian khusus pada penguatan mekanisme EAS dan berbagai usulan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan efektivitas mekanisme di kawasan.

Indonesia menyampaikan presentasi mengenai perlunya kembali kepada common perception mengenai pentingnya memiliki common vision.

Lebih lanjut, digarisbawahi bahwa dikotomi antara penciptaan arsitektur baru dan penguatan mekanisme yang ada seyogyanya tidak menjadi fokus. Namun, perlu utamakan perhatian pada aksi nyata yang dapat memberikan dampak positif bagi kawasan.

Indonesia memandang penting penguatan EAS sebagai Leaders-led forum yang strategis serta implementasi norma-norma dan prinsip yang terkandung dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC).

Secara umum terdapat kesamaan pandangan antara negara peserta EAS mengenai pentingnya arsitektur kemanan yang kuat di kawasan untuk mendukung perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan.

Kawasan perlu terus bekerja sama untuk mempertahankan dan mempromosikan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran di kawasan. Selain itu, workshop ini juga diharapkan dapat membuka jalan untuk mengembangkan beberapa rekomendasi atau pengamatan bersama mengenai upaya memperkuat, memperbaiki, atau membangun sebuah arsitektur keamanan regional yang berakar pada ASEAN-led mechanisms.

Workshop terbagi menjadi 3 sesi, yakni: Opportunities and Challenges of the Regional Security Architecture; Development of Ideas on Reinforcing the Regional Security Architecture; dan Future of the Regional Security Architecture and Next Steps.

Selaku tuan rumah, Thailand menyampaikan bahwa beberapa rangkaian EAS Workshop terakhir telah menjadi bagian penting dari EAS dan upaya yang lebih luas untuk berkontribusi bagi perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan.

Dengan berbagai perkembangan dan dinamika geopolitik yang terjadi di dunia, termasuk meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, maraknya aksi terorisme dan meningkatnya trend radikalisme, serta ancaman keamanan maritim, Asia Pasifik membutuhkan arsitektur keamanan yang kuat yang memungkinkan seluruh negara untuk mengelola situasi ini secara lebih baik. Hasil workshop ini akan dilaporkan pada pertemuan EAS Senior Officials' Meeting (SOM) 23 Mei mendatang.

Pertemuan dihadiri oleh perwakilan dari seluruh negara peserta EAS yang terdiri dari 10 (sepuluh) Negara Anggota ASEAN dan 8 (delapan) negara mitra wicara ASEAN (Korea Selatan, Jepang, RRT, Australia, New Zealand, India, Rusia, dan AS). Delegasi RI dipimpin oleh Duta Besar Foster Gultom, didampingi pejabat/staf dari Dit. Kerja Sama Eksternal ASEAN, Dit. Kerja Sama Polkam ASEAN, dan KBRI Bangkok. 




#Gan/ Ditjen KSA)