Breaking News

Deputi Direktur Jenderal IAEA Lakukan Kunker ke Indonesia

MWawasan.JAKARTA~ Deputi Direktur Jenderal Departemen Sains dan Aplikasi Nuklir, Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), Aldo Malavasi mempresentasikan tentang organisasi IAEA, khususnya Departemen Sains dan Aplikasi Nuklir, Selasa, (16/05). 

Sosialisasi ini merupakan satu dari beberapa rangkaian agenda kunjungan Malavasi ke Indonesia sejak tanggal 15 hingga 17 Mei 2017. Sosialisasi dihadiri para pejabat di lingkungan BATAN dan pemangku kepentingan terkait, antara lain perguruan tinggi, perusahaan farmasi, rumah sakit, dan instansi kementerian/lembaga.

Dalam sosialisasinya, Malavasi menjelaskan, IAEA merupakan sebuah organisasi independen yang berdiri sejak tahun 1957 dengan tujuan mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai serta menangkal penggunaannya untuk keperluan militer. Saat ini IAEA memiliki sekitar 2.500 pegawai dari berbagai negara, temasuk Indonesia. 

“Pegawai IAEA berkewarganegaraan Indonesia ada sekitar 15 orang,” katanya. Hal ini menurutnya sangat baik karena Indonesia adalah salah satu dari 168 negara anggota IAEA.

Departemen Sains dan Aplikasi Nuklir yang merupakan salah 1 dari 6 departemen di IAEA, mempunyai ruang lingkup meliputi ketahanan pangan, diagnosis dan pengobatan penyakit dan gizi, menyediakan pengetahuan dan keahlian untuk sains dan industri, lingkungan, dan ketersediaan air bersih.

Salah satu wujud dari kolaborasi IAEA dengan Indonesia dalam pengembangan kapasitas teknologi nuklir di bidang industri, khususnya aplikasi uji tak merusak (non-destructive testing), yakni dengan ditunjuknya BATAN sebagai Collaborating Center (CC) dalam Research and Development and Capacity Building in Nondestructive Diagnostics and Investigation Technologies sejak awal tahun 2015 yang di resmikan langsung oleh Direktur Jenderal IAEA, Yukiya Amano. 

Kedatangan Malavasi ini diharapkan dapat mempromosikan CC NDT BATAN ke negara-negara anggota IAEA lainnya.

Salah satu peserta dari PT. Kimia Farma yang mengikuti sosialisasi menyampaikan pendapatnya bahwa pemanfaatan nuklir di bidang ksehatan sangat dibutuhkan sekali, baik untuk diagnostik maupun terapi. Namun kerapkali terkendala pada bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa nuklir bukan sesuatu berbahaya, serta meyakinkan bahwa limbah nuklir tidak membahayakan lingkungan.

Selain itu, pemanfaatan teknologi nuklir sering terkendala dengan banyaknya regulasi yang harus dipenuhi, baik dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), maupun Kementerian Kesehatan. 

Sementara peserta dari Rumah Sakit Jamil, Padang berkomentar seringnya terjadi perbedaan pemahaman diantara para dokter mengenai pemanfaatan teknologi nuklir, serta menanyakan bagaimana  agar perkembangan kedokteran nuklir di Pulau Sumatra khususnya di Padang dapat lebih maju seperti rumah sakit di Pulau Jawa.

Menanggapi hal tersebut, Malavasi menyarankan agar nuklir dikenalkan kepada masyarakat dimulai dari kehidupan sehari-hari, misalnya saat menaiki pesawat kita menerima radiasi alam berkali-kali lipat.

Untuk pengelolaan limbah, tentu penjelasan ke masyarakat harus dijelaskan sesederhana mungkin. “Misalnya, menggunakan analogi kalau penyimpanan uang di ATM, tentu pengamanannya lebih ketat, begitu juga dengan penyimpanan limbah radioaktif. BATAN harus lebih mengenalkan lagi bagaimana pengelolaan limbah nuklir diatur sesuai dengan regulasi yang ada”, ujarnya.

Kaitannya dengan perbedaan persepsi bahkan dikalangan dokter sendiri, Malavasi mengatakan IAEA terbuka untuk negara anggota termasuk Indonesia melalui BATAN untuk berbagi pengetahuan dan pemahaman mengenai teknologi nuklir. Karena itu, IAEA seringkali menggelar workshop atau training yang dapat dihadiri oleh badan pelaksana dan pengawas nuklir, perguruan tinggi, rumah sakit, dan pemangku kepentingan lainnya. 

Terkait banyaknya regulasi yang harus dipenuhi, Malavasi mengatakan IAEA bukanlah organisasi yang dapat mengintervensi negara manapun dalam pemanfaatan teknologi nuklir. 

“Yang bisa kami berikan hanya rekomendasi kepada negara tersebut, bagaimana agar teknologi nuklir dapat bermanfaat dan aman sesuai dengan aturan yang berlaku,” tuturnya.

Sehari Sebelum menggelar kegiatan sosialisasi (15/05), Malavasi telah melakukan kegiatan kunjungan ke beberapa fasilitas yang dimiliki oleh Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN dan Rumah Tempe yang berlokasi di Bogor. Selain itu, di hari kedua kunjungannya (16/06), Malavasi juga melakukan beberapa pertemuan dengan beberapa pemimpin kementerian/lembaga diantaranya BAPETEN, Food and Agriculture Organization (FAO), Kementerian Kesehatan, dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. 



#Gan/Humas Batan/tnt/adhi